Bouquet Of Orange Flowers CorEtan Rasa


prettygreeting

Meh Follow!!

Thursday, 3 April 2014

10 Kisah Paling Indah Dalam Islam



                                       بسم الله الرحمن الرحيم


1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra
Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis ,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesolehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”


2. Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,"

Umar memenangkan cinta yang lain, kerana memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Kerana sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, "Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!"


3. Abdurrahman ibn Abu Bakar
Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan isterinya kerana takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang isteri begitu besar.

Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya

Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.


4. Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid
Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa: Rasulullah Saw. Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.

Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar."

Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, "Masih adakah orang lain setelah Khadijah?"

Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw. kepada Khadijah. Subhanallah.


5. Rasulullah Saw. dan Aisyah
Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.

Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.

Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”

Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-isteri.


6. Thalhah ibn ‘Ubaidillah
Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

Subhanallah.


7. Kisah cinta yang membawa surga
Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata, "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'.

Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan.

Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.'

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.'

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo'akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"

Dia menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan."

Pemuda itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."

Pemuda itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."

Si pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar. 


8. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah
Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,

"Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?"

"Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah.

"Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas.

"Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" tanya Abu Thalhah.

"Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu Sulaim.

Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya."

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya."

Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.
 

9. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel
Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata "Astagfirullah"

Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini".

Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.

"Assalamualaikum...."

"Waalaikumsalam wr.wb.". Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.

Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai.

"Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua". tanya pemuda itu.

Lalu pak tua itu menjawab. "Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?"

Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan."Baiklah pak, saya mau."

Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.

"Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?"

Pak tua itu diam sejenak. "Belum."

Pemuda itu terhenyak. "Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu."

"Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi."

"Apa itu pak tua?"

"Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?"

"Ya, aku mau." jawab pemuda itu.

Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. "Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?"

Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak...dia akan menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.

"Baiklah pak, aku mau."

Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.

"Ayahanda...siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?"

Pak tua itu tersenyum dan menjawab. "Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu."

Pemuda itu tampak bingung. "Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?

Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?"

Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. "Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat."
Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: "Subhanallah....."
Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.


10. Zulaikha dan Yusuf As. 
Cinta Zulaikha kepada Yusuf As. konon begitu dalam hingga Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Swt. Berikut sedikit ulasan tentang cinta mereka

Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.

Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.

Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya.”

Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.

Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan.

Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya: "Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia."

Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf a.s. Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?”

Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?”

Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.


Saturday, 20 July 2013

Bagaimana menurutmu? -sebuah cerpen


Assalamualaikum..

Hari nie malas pulak nk buat entry sendiri.. tp Cuma nk share sebuah cerpen dari rakan bloger..

BAGAIMANA MENURUTMU? –sebuah cerpen


Pernah mungkin, kamu berada pada situasi saya ini. Pada situasi kamu perlu berlari pada jalan yang penuh tanda tanya, hanya untuk mencari titik akhir yang bernama jawapan, namun kamu tidak pernah ketemu.

Lama juga saya berlari pada jalan itu, sehingga saya lelah, haus, dan hanya peluh kecewa yang saya peroleh. Itulah jalan yang saya lalui dan sekarang masih tetap saya lalui. Tahu saya jawapannya ada di situ, namun lemahnya saya sebagai manusia, jawapan itu yang terkadang sudah terlihat dekat, tiba-tiba samar dan terus hilang daripada mata.

Inilah jalan yang saya mahu cerita.

Senang.

Dari kecillah saya diberitahu oleh ibu, oleh ayah dan oleh saudara mara tua saya, berbuat baik sesama makhluk, taat kepada perintah Allah dan tidak melanggar larangan-Nya, adalah jalan ke arah kebahagiaan.

Rezeki akan murah, hidup menjadi senang. Belajar cepat pandai, dan berdoa juga mudah makbul. Ingat benar saya pesan-pesan itu. Pesan-pesan yang membawa saya, cuba menjadi manusia baik. Pesan yang yang mulia, pesan yang membuatkan saya berlari di jalan itu, sehingga saya terlupa kepada satu perkara.

Lelaki.

Umur saya sudah 50, dan uban sudah tidak malu-malu singgah ke kepala. Berpestalah uban, dan semakin lama, semakin hilang gagahnya warna hitam daripada saya. Uban itulah tanda, kuatnya kerja saya, uban itulah juga saksi, betapa gagahnya saya berfikir berkenaan hidup, dan pada hari itu pun tetap sama.

Waktu itu pagi sudah sedang elok untuk solat sunat dhuha. Tetapi saya lain pula ceritanya, hanya duduk bersandar pada dinding surau dengan mata yang pejam. Menyesal juga hati, terawal datang ke pejabat, dan akhirnya mata pula yang alah pada kata 'nikmat tidur'.

Pada ketika saya membuka mata, terlihat di hadapan saya, seorang lelaki seusia saya, yang juga teman baik saya, yang sudah usai solat sunat dhuha. Tersenyum dia memandang saya dengan tangan yang sedang menadah doa. Pastinya, doa itulah doa yang muluk-muluk. Doa-doa yang saya sendiri pernah ucapkan kepada Tuhan.

“Sudah solat?” soal lelaki itu selepas tapak tangannya menyeluruhi wajahnya yang bening. Teman baik saya ini, memang kerjanya, mengajak ke arah kebaikan dan saya sudah biasa. Malah sebenarnya saya sangat bersyukur kerana bertemankan dia.

Saya menggeleng, tersenyum dan berceritalah lelaki itu berkenaan hebatnya yang dinamakan solat sunat dhuha. Saya mendengarkan sahaja, kerana walaupun saya sudah tahu, namun gaya dia bercerita, bukan mahu memberitahu yang dia tahu, tetapi mahu memberitahu, yang dia peduli dan sayang kepada saya, sebagai seorang saudara seagama. Perasaan itu jarang benar saya peroleh dan pagi itu saya peroleh lagi.

“Sempat lagi kalau mahu solat,” kata lelaki itu tersenyum lagi.

Tidak tahu saya bagaimana mahu menjawab kata-kata lelaki itu, sehinggalah datang luahan daripada hati, yang kemudiannya menjadi fikir dalam kepala, dan saya luahkannya dengan penuh hati-hati menjadi bicara.

“Senang dunia, sepertinya tidak mahu lekat kepada saya. Lalu sekarang, ibadah saya bukan lagi mahu kesenangan dunia, tetapi mahu berkat dan rahmat-Nya.” Hati-hati betul saya bicara, agar saya tidak terlihat orang yang tidak bersyukur, agar saya tidak terkesan sebagai orang yang putus asa.

Namun lain pulalah jadi. Wajah lelaki yang bening itu, tiba-tiba sahaja menjadi teduh yang luar biasa. Tahulah saya, ada sesuatu yang dia mahu perkatakan dengan sesungguh hati dan saya pun menanti.

Jalan.

“Maafkan saya, sekiranya saya terlihat cuba menilai kamu, tetapi saya mahu bertanya, sebelum ini kamu berbuat baik, berdoa dan segala macam ibadah adakah kerana mahu memperoleh senangnya dunia dan seterusnya mendapat redha Ilahi?” soal lelaki itu, sopan dan baik.

“Jujurnya, ya. Namun saya sedar, ada manusia yang doanya ditangguhkan sehingga ke syurga, dan mungkin sayalah orangnya. Asalkan saya beroleh redha Ilahi, itu sudah cukup,” jawab saya, yang masih juga hati-hati.

Diam sebentar lelaki itu. Diam yang sedang menyusun kata-kata terbaik, bagi dihulurkan dengan sopan kepada saya, dan saya terus menanti.

Berkatalah lelaki itu, “Begini temanku. Untuk umur kita ini, ada sesuatu yang tidak kena pada kata-kata kamu. Namun sebelum saya memberitahu, biarlah saya bercerita daripada mula.”

Degup jantung saya, bergetar laju. Apalah lagi bicara yang lelaki itu simpankan untuk saya.

“Semasa kita kecil, semasa kita remaja, pesan-pesan supaya kita berbuat baik, patuh suruhan dan taat larangan Allah supaya memperoleh kesenangan dalam urusan dunia adalah wajar, bagi memperelok iman dan membuatkan kita semakin mahu kepada Tuhan, dan memang itulah yang banyak berlaku kepada kita. Namun, pada peringkat umur kita, pesan-pesan itu, perlu ditingkatkan lagi kepada yang lebih tinggi.”

Saya mengerut dahi, dan kefahaman saya berhenti di situ. Saya melihat lelaki itu, dia tersenyum dan dia bersedia bagi menyambung.

“Begini, oleh kerana daripada kecil kita sudah terbiasa dengan pesan-pesan itu, apabila kita sudah dewasa, tanpa kita sedar pesan-pesan itulah yang membalut hati kita. Tidak salah dengan perkara itu, yang menjadi soalnya adalah diri kita, kita terlupa berkenaan proses, jalan-jalan yang ditempuhi oleh para nabi dan rasul. Merekalah itu manusia-manusia yang paling dekat dengan Tuhan dan sekiranya mahu dibandingkan dengan saya, ya Allah, jauhnya mungkin tujuh petala langit tujuh petala bumi. Tetapi, walaupun sedekat itu mereka dengan Tuhan, adakah jalan hidup mereka di dunia ini dipenuhi kesenangan?”

Penerangan yang diakhiri soalan itu membuatkan saya menjadi ragu-ragu, dan lelaki itu tidak membiarkan saya lama-lama di situ.

Dia menyambung, “Memang ada kesenangan dunia, namun yang banyaknya adalah cabaran yang seberat-berat ujian. Lalu, jangan terus membalut hati kamu dengan pesan-pesan itu, kerana tanpa kamu sedar kamu sebenarnya putus harapan sekiranya tidak beroleh kesenangan dunia. Boleh sahaja mulut kamu berkata, doa kamu tertangguh, dan redha Allah yang kamu cari, tetapi tanya hati kamu dengan sejujur-jujurnya, adakah kamu tidak kecewa? Tidak salah kecewa, tetapi sekiranya kecewa itu yang datang dahulu sebelum datangnya rasa mahu mencari redha Ilahi, itulah tanda putus harapan, dan itulah yang jarang kita sedar.”

Saya menarik nafas dalam-dalam, dan belum pun nafas saya habis lelaki itu terus berkata, “Jadi, jadikan pesan-pesan itu bukan sekadar balutan pada hati, tetapi buka balutan itu dan cuba fahami makna di sebaliknya. Iaitu, apa sahaja yang kita perbuat dengan niat kepada Allah, memang akan ada balasan yang baik, namun bukan itu yang utama mahu dikejar, dan kita juga tahu redha Allah jugalah yang dicari, namun bagaimana prosesnya? Dalam usia kita, seperlunya, proses kita semakin mudah dengan membuang kata 'kesenangan dunia', dan terus kepada redha Ilahi. Itulah proses mencari redha Ilahi, para nabi, rasul, sahabat dan para ulama, tanpa perlu sedikit pun membalut hati pada kata, 'kesenangan dunia'. Lalu, bagaimana menurutmu?”

Jawapan.

Saya diam dan hanya mampu tersenyum. Lalu pada usia saya ini, terus-terang sukarnya untuk memeluk jawapan walaupun sudah saya tahu bentuk dan warnanya. Lamanya hati saya beku pada kata 'balasan baik di dunia', membuatkan saya tidak sedar, ibadah saya selama ini hanya untuk itu, walaupun mulut saya sering basah mengatakan mahu mencari redha Ilahi, tetapi ia tidaklah lebih besar daripada kata, 'mencari kesenangan dunia'. Ya, Allah, semoga sahaja saya mampu membalikkan perkara itu dalam hati saya, supaya saya tidak perlu lagi berlari pada jalan yang penuh tanda tanya..


Sunday, 14 July 2013

Cinta Kerana Allah..


Assalamualaikum w.b.t...

Dalam suasana yg sejuk dan dingin nie,maklumlah selepas hujan katakan.. Alhamdulillah,syukur kpd Allah sebab menurunkan hujan.. kan sekarang nie jerebu,so kurang laa jerebu 2 kn.. entry hari nie bukan mengisarkan jerebu tp pasal cinta kerana Allah..

Cinta sering diberi gambaran indah oleh mereka yg merasainya. Umpama tiada lagi kelazatan di atas muka bumi ini selain menikmati buah cinta yg ranum.

Ibn Hazm al-Andalusi, seorang fuqaha dan ahli hadis terkemuka islam pernah mencoretkan: “Cinta; awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Ia tidak dapat dilukiskan,tp harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya. Syariat juga tak melarangnya.”

Benar, cinta tak pernah dilarang oleh islam, sebaliknya lebih menggalakkan kita untuk menjadi seorang pencinta. Malah, ia menjadi syarat kesempurnaan iman.

Sebuah hadis yg diriwayatkan oleh al-Tirmizi, Abu Daud, Ahmad dan al-Hakim menyebutkan nabi s.a.w bersabda yg bermaksud: “sesiapa yang mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah, memberi kerana Allah dan menegah kerana Allah, sesungguhnya telah sempurna imannya.”

Lingkung cinta itu luas, bukan terhad kepada batas cinta sesama manusia yg berlawanan jantina. Dia teringat firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 14 yang bermaksud: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yg diingini, iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yg banyak daripada jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yg baik(syurga).”

Ibn Qayyim ada mengungkapkan: “Cinta itu tidak dicela kecuali sekiranya melalaikan daripada mengingati Allah dan menjauhkan daripada cinta-Nya.”


Saturday, 29 June 2013

Kerana Ustaz Azhar Idrus


Assalamualaikum w.b.t..

Kerana Ustaz Azhar – sebuah cerpen berdasarkan kisah benar

Kepala saya pening. Terlalu byk persoalan yg bermain dlm fikiran. Satu persatu masalah cuba saya atasi, namun semuanya buntu. Saya cuba buangkan perkara itu jauh-jauh, tp ia tetap juga berpusing-pusing dlm fikiran. 

Ketika termenung di jendela bilik, sayup-sayup saya terdengar suara seorang ustaz sedang memberikan kuliah agama. Suara itu datangnya dari arah ruang tamu. Memang ayah saya gemar mendengar ceramah-ceramah agama dan juga politik.

Membosankan! Saya bukanlah anti ataupun benci dengan ceramah agama, tetapi kebanyakan ceramah yg saya dengar seolah-olah  Cuma tahu menghentam org yg melakukan dosa.Setiap kali saya mendengar ceramah agama, pasti ada sahaja yg terkena pada batang hidung saya. Saya akui memang saya sedikit liar dengan ajaran agama.

Tapi ceramah kali ini berlainan. Saya dengar butir kata yg dilontarkan oleh ustaz itu. Setiap kata-katanya membuatkan saya asyik sehinggakan hendak mendengar sehingga selesai. Perlahan-lahan saya membuka pintu bilik. Saya memasang telinga. Saya amati setiap kata yg dikeluarkan.Semua kata-katanya membuatkan saya berasa senang ditambah pula dengan lawak-lawak jenaka membuatkan ceramahnya tidak membosankan. Saya terkekek-kekek ketawa dari jauh.

Saya mengintai dari celahan pintu, siapa sebenarnya penceramah itu? Bunyi percakapannya seperti orang Terengganu. Hati saya membuak-buak ingin mengenali penceramah itu yg mampu membuka pintu hati saya untuk mendengar ceramah yg dia berikan.

Malam itu, saya telah mengambil VCD tersebut. Baru saya tahu, ustaz itu bernama Ustaz Azhar Idrus, seorang penceramah dari Terengganu. Saya terus membuka VCD tersebut di computer riba. Saya perlahankan suara supaya tidak didengar oleh adik-beradik yg lain. Sedar tidak sedar, ceramah itu sudah hampir berakhir. Saya berasa tidak puas. Ceramahnya juga membuatkan saya tidak kering gusi ketawa.

Saya kemudian membuat carian di youtube. Rupa-rupanya ustaz ini sudah popular. Satu persatu video saya saksikan. Semua siri ceramahnya menghiburkan dan dapat saya terima. Ceramah yg disampaikannya hampir keseluruhan menjawab persoalan yg bermain di minda saya. Tanpa diduga, satu persatu masalah yg saya alami terjawab.

Tiba-tiba, sewaktu saya sedang mendengar kuliah mengenai peranan suami dalam rumah tangga, fikiran saya terus terkenangkan satu wajah yg hampir saya lupakan. Hampir dua tahun saya tidak melihat wajah itu.

Perasaan rindu terus menyelinap ke dasar hati. Saya rindu dengan bekas isteri saya. Setelah dua tahun kami bercerai, saya hairan kenapa wajah itu tiba-tiba sahaja singgah dlm fikiran saya. Walaupun sebelum ini saya hidup bersamanya hampir empat tahun, saya mampu abaikan wajahnya. Namun, malam ini tidak semena-mena wajah itu kembali menerjah.

Tanpa disedari, air mata saya bercucuran jatuh. Sudah berpuluh tahun pipi ini Kering tanpa dibasahi air mata tapi malam itu air mata yg dipendam gugur juga. Saya tidak dapat menahan sebak. Segala kenangan bersama dengannya dahulu mula segar kembali dlm ingatan.

Saya tidak dapat melelapkan mata. Kata-kata yg diungkapkan oleh Ustaz Azhar benar-benar membuatkan diri saya terasa sangat kerdil. Saya terus menyelami diri. Banyak sangat dosa saya dengan Allah. Saya juga abaikan tugas saya sebagai seorang suami. Dia membuka semula lipatan silam yg saya telah abadikannya sebagai sejarah hidup. Peristiwa malam itu terbayang semula di ingatan…

KERETA SAYA meluncur masuk ke garaj rumah. Belum sempat saya matikan enjinnya, saya Nampak isteri saya tercegat di depan pintu rumah sambil mencekak pinggangnya. Saya terus keluar dari kereta. Tanpa mengendahkannya saya terus masuk ke dalam rumah dan menghempaskan punggung di atas sofa.

“Abang! Siapa Dania?” soal isteri saya. Terkejut juga saya dengan soalan yg diajukannya. Macam mana dia boleh kenal Dania, kekasih gelap saya? Saya tidak menjawab soalannya. Saya pekakkan telinga, kemudian bangkit untuk masuk ke dalam bilik. Baru sahaja hendak bangun, isteri saya menolak saya.

“Kenapa dengan awak ni? Dah gila ke?” tengking saya. Isteri saya makin menyinga. Katanya dia sudah tahu tembelang saya. Dia terus membebel sehingga membingitkan telinga saya. Disebabkan tidak tahan dengan leterannya, saya bangkit lalu menengkingnya kembali.

“Awak jangan nak mengajar saya! Saya tahu apa saya buat! Suka hati sayalah nak bercinta ke, nak apa ke? Awak tak berhak nak campur!” jerkah saya. Isteri saya makin tidak keruan. Kemarahannya tidak dapat dipadamkan lagi. Dia meluahkan rasa yg dipendamkan selama ini. Katanya, semenjak berkahwin dia tak pernah rasa bahagia. Saya sering meninggalkan tanggungjawab. Saya tidak pernah memberikan nafkah untuknya. Dia terpaksa mencari nafkahnya sendiri.

Kata-katanya membuatkan saya panas telinga. Akhirnya satu penampar singgah di mukanya. Tidak cukup dengan itu, saya melayangkan satu penyepak ke pahanya pula. Isteri saya terjelepok jatuh.

“kau tak bahagia kan? Kau dengar sini, kau boleh keluar dari rumah ni cari kebahagiaan kau sendiri. Aku pun tak tahan dengan kau. Aku ceraikan kau!” Ucap saya dengan bengis.

Waktu itu memang saya tidak hairan dengan penceraian itu. Sebelum ini pun, walaupun sudah berkahwin, masa saya lebih bersama kawan-kawan dan kekasih saya. Waktu bersama isteri hanya sekejap sahaja. Saya sendiri tidak faham kenapa. Setelah berkahwin dengannya, hanya lima bulan sahaja saya rasakan kebahagiaan, selepas itu rasa seperti tidak seronok.

Saya lebih seronok berada di luar bersama kawan-kawan. Saya rindukan zaman semasa saya bujang dahulu. Disebabkan itulah saya abaikan tanggungjawab sebagai suami. Saya lupa yg saya dah beristeri.

“Ya Allah! Aku berdosa kepada bekas isteriku.” Saya tidak menyangka sama sekali, keegoan saya selama ni boleh diranapkan dengan hanya mendengar beberapa siri ceramah sahaja. Perkara ini benar-benar membuatkan saya mahu mengenali penceramah tadi. Mungkin ada yg beranggapan perkara ini biasa, tetapi bagi saya ini satu yg menakjubkan.

Setiap malam jika ada kelapangan, saya pasti akan mencari ceramah-ceramah Ustaz Azhar di dalam internet. Saya kini seolah-olah baru sedar dari lamunan panjang. Saya seperti baru terjaga yg umur saya sudah meningkat dan mati sedang menghampiri saya. Banyak pelajaran yg saya terima. Terubat segala masalah yg terbuku apabila mendengar ceramah Ustaz Azhar. Bagi saya dia seorang penceramah yg faham naluri seorang insan yg hanyut dengan dosa. Segala permasalahan dia tidak menyelesaikan dengan cara yg keras. Hal ini membuatkan saya benar-benar seronok.

Saya mula menunaikan solat dan ada masanya saya juga ke surau. Segala apa yg saya lakukan tidak merasa beban, malah berasa sangat seronok. Kini, barulah saya dapat rasakan keseronokan melakukan ibadah.

Bagi saya, cara inilah yg perlu dilakukan oleh mana-mana pendakwah. Mereka harus memahami jiwa orang-orang yg jauh dari agama ini. Orang yg tersasar dari jalan Allah ini tidak boleh dilentur dengan kekerasan. Mereka juga mahu mencari jalan ke syurga. Tetapi apabila menggunakan kekerasan, mereka akan lebih memberontak dan menjauhkan diri.

NAMUN MASIH ADA perkara yg membuatkan hati saya tidak tenag. Saya masih lagi rasa bersalah dengan bekas isteri saya. Tetapi adakah dia dapat mengampunkan kesalahan saya? Walaupun malu rasanya untuk berbuat demikian, tetapi saya mesti lakukan. Jika tidak ia akan membuatkan hati saya rasa tidak tenang.

Langkah pertama saya lakukan ialah, saya pergi meronda ke rumah bekas mentua. Saya mahu memastikan bekas isteri saya tinggal di situ ataupun dia sudah berhijrah ke tempat lain. Sejak perpisahan saya dan dia dua tahun lepas, saya langsung tidak bertemu dengannya. Khabarnya sekali pun saya tidak dengar. Saya tidak tahu sekarang ini sama ada dia sudah berumah tangga atau belum.

Hampir seminggu meronda, saya pasti yg dia masih tinggal di situ. Pada mulanya perasaan malu membuak-buak. Tetapi saya gagahkan juga. Saya tidak mahu perasaan bersalah terus menerus bersarang dlm jiwa saya.

Setelah bertemu dengan bekas isteri saya dan keluarganya, Alhamdulillah, mereka dapat menerima dan memaafkan kesalahan saya. Jiwa saya menjadi sangat tenang setenang-tenangnya.

Tanpa diduga, pertemuan itu membuahkan kembali bibit-bibit cinta antara kami berdua. Percintaan kali ini saya rasakan berbeza dengan dulu. Kalau dulu percintaan saya lebih kepada nafsu, tetapi kini saya lebih mengenali apa itu cinta, keluarga dan juga kebahagiaan.

Saya rasakan perkenalan ini seperti baru. Bekas isteri saya juga merasakan demikian. Perubahan saya menjadi tanda Tanya kepada seluruh keluarga. Jika dulu saya seorang pemarah, kini sifat itu semakin kurang. Saya juga mula belajar memaafkan orang dan belajar mengenali siapa pencipta saya sebenarnya.

Tidak sampai sebulan, ikatan perkahwinan yg terlerai dahulu kembali bersatu. Saya merasakan inilah rezeki terbesar saya. Allah masih lagi menyayangi saya. Saya dapat rasakan kehidupan yg sangat sempurna selepas perkahwinan kali kedua saya.

Dengan keberkatan-Nya juga, kini isteri saya telah mengandung anak sulung kami. Tidak sabar rasanya mahu menerima orang baru dalam keluarga. Sebelum ini, walaupun melayari bahtera selama empat tahun bersamanya, saya tidak dikurniakan cahaya mata. Tapi kini, baru dua bulan berkahwin, saya diberikan rezeki.

Allah Maha Berkuasa. Mungkin dahulu saya masih belum mampu memikul tugas sebagai bapa. Malah, sebagai seorang suami pun saya gagal, inikan pula mahu menjadi seorang bapa. Tetapi sekarang, saya dapat rasakan yg saya mampu dan sepenuhnya bersedia.

Saya berjanji kpd diri saya dan keluarga yg saya tidak akan mensia-siakan hidup keluarga saya. Saya rela berkorban walaupun nyawa saya jadi taruhan. Sehingga kini, perubahan saya masih lagi menjadi persoalan di kalangan ahli keluarga saya dan mentua. Mereka masih lagi tertanya-tanya bagaimana saya boleh berubah.

Semua ini tidak menjadi sekiranya tiada kesungguhan dlm diri, seperti firman Allah dlm surah ar-R’ad ayat 11 yang berbunyi: “Bagi tiap-tiap seorang ada malaikat penjaganya silih berganti dari hadapannya dan dari belakangnya, yang mengawas dan menjaganya(dari sesuatu bahaya) dengan perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kpd sesuatu kaum bala bencana(disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada sesiapa pun yg dapat menolak atau menahan apa yg ditetapkan-Nya itu, dan tidak ada sesiapa pun yg dapat menolong dan melindungi mereka selain daripada-Nya.”
#sekadar perkongsian..


Sunday, 23 June 2013

Malam Nisfu Syaaban..


Assalamualaikum w.b.t

Ok,disebabkan hari ini kita menyambut nisfu syaaban, saya nak kongsikan sedikat perihal malam nisfu syaaban.. So,entry tuk kali nie pasal malam nisfu syaaban.. Saya harap pembaca semua mendapat sedikit maklumat dan dapat kita mengamalkannya bersama supaya kita mendapat mardhatillah (redha Allah)..

Nisfu Syaaban (Nisf bermaksud separuh) adalah peristiwa hari ke-15 dalam bulan Syaaban tahun Hijrah. Umat Islam mempercayai yang pada malam Nisfu Syaaban, amalan akan dibawa naik oleh Malaikat untuk ditukar dengan lembaran amalan yang baru setelah setahun berlalu. Pengertian am Nisfu Syaaban dalam bahasa Arab bererti setengah. Nisfu Syaaban bererti setengah bulan Syaaban. Malam Nisfu Syaaban adalah malam ke-15 Syaaban iaitu siangnya 14 haribulan Syaaban.

Hari Nisfu Syaaban adalah hari dimana buku catatan amalan orang-orang Muslimin selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu Maghrib (waktu senja), (15 Syaaban bermula pada 14 haribulan Syaaban sebaik sahaja masuk waktu Solat Maghrib)

Malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatul Qadar.

Pada malam Nisfu Syaaban hendaklah kita merebut peluang keemasan ini dengan cara menghidupkan malamnya dengan ibadat. Sebelum itu, pada siangnya eloklah berpuasa terlebih dahulu. Apabila selesai menunaikan solat Maghrib, disunatkan solat sunat dua rakaat. Selepas itu, hendaklah dibaca surah Yaasin sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeza-beza sebagaimana yang akan dijalaskan nanti.

Disunatkan juga memperbanyakkan istighfar dan bertaubat daripada segala dosa serta meminta keampunan daripada Allah SWT untuk kedua ibu bapa serta keluarga di samping memperbanyakkan bacaan Al-Quran, bertasbih, berselawat dan melakukan solat-solat sunat.

Selain daripada itu, disunatkan juga memperbanyakkan doa kerana malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang paling mustajab dan penuh rahmat.

Rasulullah SAW bersabda : maksudnya
“Ada lima malam yang tidak ditolak permintaan (doa) iaitu malam pertama bulan Rejab, malam Nisfu Syaaban, malam Jumaat, dua malam iaitu malam Hari Raya Aidilfitri dan malam Hari Raya Aidiladha”.

Di dalam kitab Durratun Nasihin dinyatakan hadith yang bermaksud :
“Jibril telah datang kepadaku pada malam Nisfu Syaaban dan berkata : “Wahai Muhammad, pada malam ini pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat sedang di buka, oleh itu bangunlah dan kerjakanlah sembahyang, kemudian angkat kepalamu serta kedua-dua tanganmu ke langit.” Aku (Rasulullah) bertanya: “Wahai Jibril, apakah gerangan malam ini?” Jibril menjawab : “Pada malam ini telah di buka 300 pintu rahmat, maka Allah SWT mengampun semua orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu melainkan (yang tidak diampuni) ialah tukang sihir,tukang tilik nasib, orang yang sangat suka bermusuhan, peminum arak, pelacur, orang yang makan riba, orang yang derhaka kepada kedua ibu bapa,orang yang suka mengadu domba, dan orang yang memutuskan silaturrahim. Maka sesungguhnya mereka tidak akan bertaubat dan meninggalkan pekerjaan maksiatnya”.

Antara Peristiwa di Bulan Syaaban

1. Malam Nisfu Syaaban pada 14 Syaaban.Keagungan malam Nisfu Syaaban seumpama keagungan Rejab dengan malam Isra’  Mikrajnya dan keagungan Ramadhan dengan Lailatul Qadarnya.

2. Berlaku penukaran qiblat dari Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis ke Kaabah di Masjidil Haram, Mekah pada 15 Syaaban.

3. Berlaku peperangan Bani Mustalik pada bulan Syaaban tahun kelima hijrah. Kemenangan berpihak kepada Islam

4. Perang Badar yang terakhir pada tahun keempat Hijrah.

Bacaan Yaasin Pada Malam Nisfu Syaaban

Pada malm Nisfu Syaaban, disunatkan membaca Surah Yaasin sebanyak tiga kali berturut-turut dengan niat doa yang berbeza-beza sebagaimana berikut :

1. Bacaan Yaasin yang pertama memohon supaya Allah SWT memanjangkan umur di dalam ketaatan kepadaNya dan sentiasa beramal soleh.

2. Bacaan kali kedua memohon supaya di tolak segala bala’ dan bencana yang bakal menimpa.

3. Bacaan kali ketiga memohon supaya kita tidak berhajat melainkan kepada Allah SWT dan memohon supaya dimurahkan rezeki yang halal.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...